Gaji atau Dividen? Ini Cara Owner Bisnis Ambil Penghasilan

Pendapatan owner bisnis sebaiknya gaji atau dividen? Pelajari kelebihan, kekurangan, serta strategi yang paling optimal berdasarkan riset para ahli.

Published

Writer

HastaPrada Editorial Team

pemilik bisnis sedang menanadatangani gaji dan dividien untuk peghasilannya sendiri hastaprada

Banyak pemilik bisnis bertanya: lebih baik mengambil penghasilan dalam bentuk gaji atau dividen? Jawabannya tidak sesederhana memilih mana yang pajaknya lebih rendah. Dalam praktiknya, sebagian besar konsultan pajak dan firma akuntansi global justru menyarankan kombinasi keduanya. Alasannya, keputusan ini tidak hanya memengaruhi pajak yang dibayar hari ini, tetapi juga cash flow perusahaan, stabilitas keuangan pribadi, hingga rencana pertumbuhan bisnis di masa depan.

Lalu, kapan owner sebaiknya mengambil gaji? Kapan dividen lebih menguntungkan? Dan apa yang sebenarnya dilakukan oleh para pemilik bisnis yang sudah matang?

Baca Juga: Cara Mengetahui Usaha Untung atau Rugi Sebenarnya

Gaji atau Dividen: Mana yang Lebih Baik untuk Owner Bisnis?

Jika dilihat secara umum, gaji cocok untuk memberikan kepastian pendapatan, sedangkan dividen memberikan fleksibilitas dalam mengambil keuntungan dari perusahaan.

Namun, keduanya berasal dari sumber yang berbeda.

Gaji dibayarkan sebagai biaya operasional perusahaan. Artinya, pembayaran gaji akan mengurangi laba perusahaan sebelum pajak dihitung. Sebaliknya, dividen dibagikan dari laba yang sudah dikenakan pajak perusahaan. Inilah mengapa banyak owner sering tergoda untuk langsung membandingkan mana yang pajaknya lebih rendah.

Padahal, pertanyaan yang lebih tepat sebenarnya bukan "mana yang lebih hemat pajak?", melainkan "kombinasi mana yang paling sesuai dengan kondisi bisnis dan tujuan finansial owner?"

Pendekatan inilah yang banyak digunakan oleh firma akuntansi internasional ketika memberikan konsultasi kepada pemilik perusahaan.

Mengapa Banyak Owner Tetap Mengambil Gaji?

Binder Dijker Otte (BDO) Canada menjelaskan bahwa gaji memiliki karakteristik yang berbeda dengan dividen karena diperlakukan sebagai biaya perusahaan. Dengan kata lain, ketika perusahaan membayarkan gaji kepada owner yang juga berperan sebagai eksekutif, pengeluaran tersebut dapat mengurangi laba kena pajak perusahaan. Sebaliknya, dividen dibayarkan dari laba yang sudah dikenai pajak sehingga tidak memberikan pengurangan pajak di tingkat perusahaan.

Meski memiliki perusahaan sendiri, banyak owner tetap menetapkan gaji bulanan untuk dirinya.

Alasannya cukup sederhana: gaji memberikan kepastian.

Pendapatan yang stabil membuat owner lebih mudah mengatur keuangan pribadi, membayar cicilan, atau bahkan mengajukan pinjaman dan KPR. Dari sisi perusahaan, gaji juga dianggap sebagai biaya yang dapat mengurangi laba kena pajak.

Selain itu, ada aspek psikologis yang sering luput dibahas.

Owner yang mengambil gaji tetap cenderung memiliki batas yang jelas antara keuangan pribadi dan keuangan perusahaan. Mereka tidak mudah mengambil uang perusahaan sewaktu-waktu hanya karena merasa sebagai pemilik.

Batas yang sehat ini justru sering menjadi fondasi disiplin finansial dalam bisnis yang sedang tumbuh. Namun, tentu ada konsekuensinya. Karena dibayarkan secara rutin, perusahaan harus memiliki arus kas yang cukup stabil. Jika bisnis sedang berada pada fase awal atau pertumbuhan yang agresif, mengambil gaji terlalu besar justru dapat membebani cash flow.

Kapan Dividen Menjadi Pilihan yang Menarik?

Dividen mulai menarik ketika perusahaan sudah menghasilkan laba yang konsisten.

Berbeda dengan gaji yang bersifat tetap, dividen memberikan fleksibilitas. Owner dapat memutuskan kapan laba akan dibagikan, berapa besar yang ingin diambil, dan berapa banyak yang tetap ditahan di perusahaan untuk ekspansi.

Inilah mengapa banyak founder startup atau pemilik bisnis keluarga tidak mengambil dividen di tahun-tahun awal.

Mereka lebih memilih menahan laba untuk membuka cabang baru, meningkatkan kapasitas produksi, atau memperkuat modal kerja. Baru setelah bisnis mulai stabil, sebagian keuntungan dibagikan sebagai dividen.

Namun ada satu hal penting yang sering disalahpahami.

Dividen tidak bisa dibagikan begitu saja.

Perusahaan harus memiliki laba yang dapat dibagikan. Jika bisnis sedang merugi atau belum memiliki saldo laba yang memadai, maka pembagian dividen tidak dapat dilakukan.

Karena itu, dividen sebenarnya lebih cocok untuk bisnis yang sudah memiliki profitabilitas yang sehat dan arus kas yang relatif stabil.

Apakah Dividen Selalu Lebih Hemat Pajak?

Belum tentu. Ini adalah salah satu mitos yang paling sering beredar di kalangan owner bisnis.

Banyak orang hanya membandingkan tarif pajak secara sekilas, lalu menyimpulkan bahwa dividen pasti lebih menguntungkan dibanding gaji. Padahal, perhitungan pajak antara perusahaan dan pemegang saham tidak bisa dipisahkan.

Dalam banyak kasus, penghematan pajak yang terlihat di tingkat pribadi justru sudah "dibayar" lebih dulu di tingkat perusahaan.

Di Indonesia sendiri, aturan mengenai dividen juga memiliki ketentuan khusus. Ada perlakuan pajak yang berbeda tergantung pada status penerima, sumber dividen, hingga apakah dana tersebut diinvestasikan kembali atau tidak.

Artinya, keputusan salary versus dividend tidak bisa hanya melihat satu angka tarif pajak.

Owner perlu memahami keseluruhan struktur perpajakan yang berlaku terhadap perusahaan dan dirinya sebagai individu.

Karena itulah, banyak konsultan pajak lebih menyukai istilah owner compensation planning dibanding sekadar membandingkan gaji atau dividen.

Fokusnya bukan mencari tarif terendah, tetapi mengoptimalkan keseluruhan posisi keuangan owner dan perusahaan.

Strategi yang Paling Sering Digunakan: Gaji + Dividen

Jika diperhatikan, banyak owner bisnis yang sudah matang justru tidak memilih salah satu.

Mereka menggabungkan keduanya.

Gaji digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan menjaga stabilitas pendapatan. Sementara itu, dividen digunakan sebagai sarana menikmati hasil pertumbuhan bisnis ketika perusahaan memiliki laba yang cukup.

Pendekatan ini memberikan beberapa keuntungan:

  • Owner memiliki pendapatan yang pasti setiap bulan

  • Perusahaan tetap memiliki fleksibilitas dalam mengelola laba

  • Pengambilan keuntungan tidak terlalu membebani cash flow

  • Perencanaan pajak dapat dilakukan dengan lebih optimal

  • Dana perusahaan tetap tersedia untuk investasi dan ekspansi

Kombinasi ini juga membuat owner tidak terlalu bergantung pada satu sumber penghasilan.

Ketika kondisi bisnis sedang kurang baik, owner masih memiliki gaji yang dapat diandalkan. Sebaliknya, ketika perusahaan menghasilkan laba besar, owner dapat menikmati tambahan penghasilan melalui dividen.

Baca Juga: Mengapa Bisnis Membutuhkan Konsultan Pajak dan Keuangan yang Terpercaya?

Jadi, Owner Sebaiknya Memilih yang Mana?

Pada akhirnya, tidak ada jawaban yang sama untuk semua bisnis.

Jika bisnis Anda masih berada pada tahap awal dan membutuhkan banyak modal untuk berkembang, mengambil gaji yang wajar sambil menahan laba di perusahaan mungkin menjadi pilihan yang lebih bijak.

Jika perusahaan sudah stabil dan menghasilkan laba yang konsisten, dividen dapat menjadi cara yang efisien untuk menikmati hasil usaha tanpa mengganggu operasional bisnis. Namun bagi sebagian besar owner, strategi yang paling realistis justru bukan memilih salah satu. Melainkan mencari komposisi yang tepat antara gaji dan dividen.

Karena pada akhirnya, tujuan utamanya bukan sekadar membayar pajak lebih kecil, tetapi memastikan bahwa perusahaan tetap sehat, owner memiliki keamanan finansial, dan pertumbuhan bisnis dapat terus berlanjut dalam jangka panjang.

MENU

CLOSE

MENU

CLOSE

MENU

CLOSE