Cara Bank Menilai Kelayakan Kredit Usaha

Bagaimana bank menilai kredit usaha? Pahami faktor yang dilihat, dari omzet, cash flow, SLIK OJK, hingga kemampuan membayar.

Published

Writer

HastaPrada Editorial Team

kelayakan kredit usaha yang dinilai oleh bank HastaPrada

Mengajukan kredit usaha bukan sekadar soal berapa besar dana yang dibutuhkan. Bank perlu melihat apakah bisnis memiliki kemampuan untuk menggunakan dan mengembalikan dana tersebut secara sehat. Karena itu, omzet, arus kas, riwayat kredit, kondisi usaha, hingga tujuan penggunaan dana ikut menjadi pertimbangan. Bagi pemilik usaha, memahami cara penilaian ini penting sebelum mengajukan kredit. Sebab, pertanyaan yang lebih tepat bukan hanya “berapa yang bisa saya pinjam?”, tetapi “berapa utang yang mampu ditanggung bisnis saya?”

Bank Tidak Hanya Melihat Omzet

Omzet memang memberi gambaran tentang seberapa besar aktivitas penjualan sebuah bisnis. Namun, omzet belum menjawab satu pertanyaan penting: apakah bisnis tersebut memiliki cukup kemampuan untuk membayar kewajibannya?

Bayangkan sebuah usaha dengan penjualan Rp2 miliar setahun. Angkanya terlihat besar. Tetapi jika sebagian besar penjualan masih berupa piutang, margin tipis, dan kas terus terserap untuk operasional, kapasitasnya untuk membayar cicilan bisa berbeda jauh dari angka omzetnya.

OJK melalui POJK Nomor 19 Tahun 2025 memang mendorong bank dan lembaga keuangan nonbank untuk memberikan kemudahan akses pembiayaan UMKM. Namun, kemudahan tersebut tetap harus berjalan bersama tata kelola dan manajemen risiko yang memadai.

Dengan kata lain, akses kredit boleh dibuat lebih mudah. Tetapi kelayakan bisnis tetap perlu dibuktikan.

Baca Juga: Financial Statement Red Flags yang Wajib Dicermati

Apa yang Dilihat Bank Saat Menilai Kredit Usaha?

Tidak ada satu angka yang otomatis membuat sebuah usaha layak mendapatkan kredit. Lembaga keuangan melakukan penilaian berdasarkan risiko dan kebijakan masing-masing.

Salah satu sumber informasi yang digunakan adalah SLIK OJK. SLIK memuat informasi debitur dan fasilitas pembiayaan yang dilaporkan oleh lembaga jasa keuangan. Data tersebut dapat digunakan sebagai salah satu sumber dalam analisis kelayakan calon debitur, tetapi bukan satu-satunya dasar keputusan kredit.

Artinya, memiliki catatan kredit bukan berarti otomatis diterima atau ditolak.

Yang lebih penting adalah bagaimana keseluruhan kondisi keuangan dan profil usaha terlihat ketika dianalisis.

1. Riwayat kredit

Sebelum mengajukan kredit baru, pemilik usaha dapat mengecek informasi kreditnya melalui iDebKu OJK. Layanan ini tersedia untuk debitur perseorangan maupun badan usaha. OJK juga menegaskan bahwa informasi dalam SLIK bersifat netral dan bukan blacklist.

Sejak 1 Juli 2026, OJK juga mengoptimalkan SLIK dengan mempercepat pembaruan informasi kredit setelah pelunasan menjadi paling lambat tiga hari kerja. Tujuannya antara lain agar informasi yang digunakan dalam proses analisis kredit menjadi lebih terkini dan relevan.

Jadi, sebelum mengajukan kredit, ada baiknya memastikan data yang tercatat sudah sesuai.

2. Kemampuan bisnis menghasilkan arus kas

Bisnis membayar utang menggunakan uang yang tersedia, bukan sekadar menggunakan omzet di laporan penjualan.

Karena itu, arus kas menjadi bagian penting untuk dipahami. Usaha perlu melihat berapa uang yang benar-benar masuk, berapa yang keluar untuk operasional, dan berapa yang masih tersisa setelah seluruh kewajiban dibayar.

Di titik ini, laporan keuangan bukan hanya dokumen untuk kebutuhan pajak atau administrasi. Ia menjadi cara untuk membaca apakah bisnis benar-benar memiliki ruang untuk menambah kewajiban.

3. Tujuan penggunaan dana

Kredit modal kerja dan kredit investasi memiliki tujuan yang berbeda. Modal kerja digunakan untuk kebutuhan operasional bisnis, seperti pembelian persediaan atau kebutuhan usaha sehari-hari. Sementara kredit investasi digunakan untuk kebutuhan yang sifatnya lebih jangka panjang, seperti pembelian aset atau ekspansi.

KUR pemerintah sendiri mencakup pembiayaan untuk modal kerja maupun investasi bagi usaha produktif dan layak. Dalam definisi resmi KUR, usaha yang “feasible” adalah usaha yang menghasilkan laba dan mampu membayar kewajiban pokok serta bunga atau margin sesuai jangka waktu yang disepakati.

Karena itu, tujuan kredit sebaiknya jelas sejak awal. Pinjaman yang digunakan untuk menghasilkan kapasitas baru tentu berbeda dengan pinjaman yang hanya digunakan untuk menutup lubang kas.

Berapa Kredit yang Sebaiknya Diambil?

Ini mungkin justru pertanyaan yang lebih penting daripada “berapa plafon yang bisa diberikan bank?”

Misalnya, bisnis membutuhkan Rp500 juta untuk membeli mesin baru. Bank mungkin saja menawarkan jumlah tersebut. Tetapi keputusan bisnisnya tidak berhenti pada pencairan dana.

Ada cicilan yang harus dibayar. Ada bunga. Ada biaya terkait kredit. Dan yang paling penting, ada ekspektasi bahwa mesin tersebut akan membantu menghasilkan tambahan pendapatan atau efisiensi yang cukup untuk menanggung kewajiban baru.

Karena itu, kebutuhan pembiayaan sebaiknya dimulai dari rencana penggunaan dana, lalu dibandingkan dengan kemampuan cash flow bisnis.

Bukan sebaliknya: mendapatkan plafon dulu, baru mencari cara menggunakannya.

Jangan Hanya Membandingkan Suku Bunga

Suku bunga memang penting, tetapi bukan satu-satunya angka yang perlu diperhatikan.

Bank Indonesia mencatat suku bunga kredit perbankan pada Juni 2026 sebesar 8,81%. Pada periode yang sama, kredit investasi tumbuh 24,90% secara tahunan, sedangkan kredit modal kerja tumbuh 8,94%.

Angka tersebut memberi konteks bahwa pembiayaan terus bergerak. Namun bagi pemilik usaha, pertanyaan praktisnya tetap sama: berapa total biaya yang harus ditanggung bisnis sampai kredit selesai?

Perhatikan bunga, tenor, metode perhitungan, biaya administrasi atau provisi, serta ketentuan lain dalam perjanjian kredit. Suku Bunga Dasar Kredit juga tidak otomatis menjadi suku bunga yang diterima setiap debitur karena keputusan akhir tetap mempertimbangkan penilaian bank terhadap masing-masing debitur.

Jadi, Apa yang Perlu Disiapkan Sebelum Mengajukan Kredit?

Sebelum mengajukan kredit usaha, pastikan bisnis setidaknya memahami lima hal:

  • tujuan penggunaan dana

  • kondisi arus kas dan kemampuan membayar

  • laporan keuangan dan kondisi operasional

  • riwayat kredit melalui SLIK

  • total biaya dan kewajiban dari fasilitas yang akan diambil

Untuk skema tertentu, persyaratan dapat berbeda. Sebagai contoh, informasi KUR pada portal resmi pemerintah menunjukkan bahwa beberapa skema memiliki ketentuan plafon dan agunan yang berbeda. KUR dengan plafon sampai Rp100 juta tidak dipersyaratkan agunan tambahan berdasarkan kebijakan KUR yang berlaku.

Artinya, jangan menggunakan satu pengalaman pengajuan kredit sebagai patokan untuk semua jenis pembiayaan.

Baca Juga: Cara Mengelola Pajak UMKM agar Bisnis Tetap Tumbuh 

Kredit yang Sehat Dimulai dari Bisnis yang Siap

Kredit bisa menjadi alat untuk memperbesar kapasitas bisnis. Tetapi utang juga menciptakan kewajiban baru yang harus masuk ke dalam perencanaan keuangan.

Karena itu, kesiapan kredit bukan hanya soal memenuhi persyaratan bank. Yang lebih fundamental adalah memahami posisi bisnis sendiri: berapa kebutuhan dananya, untuk apa digunakan, bagaimana dana tersebut menghasilkan nilai, dan apakah cash flow cukup kuat untuk membayar kewajiban sampai selesai.

Sebelum mencari tambahan modal, pastikan kamu tahu berapa banyak utang yang sebenarnya bisa ditanggung bisnis. Di situlah keputusan pembiayaan berubah dari sekadar mencari dana menjadi keputusan bisnis yang terukur. 

MENU

CLOSE

MENU

CLOSE

MENU

CLOSE